ا هـــلا و ســـهـــلا

Selamat Datang di blog SDIT Al Amri







Rabu, 15 Oktober 2014

Al Hubb



Wuuuiiih, judulnya udah kayak nyaingin Hijabers in Love aja ya? Tahu kan yang saya maksud? Ya itu emang jadi salah satu alasan kenapa tulisan ini dibuat. Alasan lainnya, tentu aja karena kami  peduli ama temen-temen rohis (kerohanian Islam).
Ngeliat maraknya kegiatan rohis sebenernya bikin hati seneng. Para pemuda dan pemudi Islam bahu membahu membangun keshalehan. Sejumlah pakar pendidikan bahkan menganggap rohis sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang terbukti ampuh meredam tawuran, narkoba dan kenakalan remaja lainnya. Anak rohis lebih doyan ngumpul di masjid en ngadain kajian fiqih dibanding dugem. Anak rohis lebih doyan ngomongin isi al-Quran dibanding ngomongin ‘isi’ sekolah lain. Nah, output = input kan? Kalo yang dimasukin ke otak informasi yang positif, so hasilnya juga positif. Artinya, kalo ngumpul aja di masjid, yang dibahas tentang isi al-Quran, maka harusnya anak rohis dianggep paling ngerti tentang agama. Anak rohis itu tingkah lakunya kudu lebih baik dari yang awam (baca: bukan aktivis rohis). Makanya pas ada isu bahwa rohis itu sarang teroris, waduh, rasanya bikin mangkel setengah hidup. Tuduhan yang luar biasa keji, sadis, kejam dan tak tahu aturan.
Rohis itu wadah untuk belajar lebih dalam tentang Islam. Namun di sisi lain, perlu diperhatikan juga soal interaksi di antara mereka yang bisa menjerumuskan ke sisi negatif. Misalnya nih, banyaknya kegiatan, koordinasi dan interaksi antara aktivis ikhwan dan aktivis akhwat, ternyata mau nggak mau bikin gonjang ganjing hati nih. Si ikhwan jadi tahu kalo si akhwat ternyata kalo ngaji suaranya bagus banget. Meski terlihat lembut, ternyata si akhwat mandiri lho. Maka segala keindahan, keanggunan seolah-olah berputar en berpusat padanya. Si akhwat nggak mo kalah. Suara si ikhwan tiba-tiba jadi begitu berwibawa. Udah rajin sholat, piawai memimpin lagi. Apalagi kalo ternyata seiring dakwahnya yang yahud, si ikhwan nilai-nilainya juga tetep good. Huuuaah! Mendadak si ikhwan jadi sosok impian pendamping ideal. Mendadak semua info tentang dia jadi penting. Mendadak harapan-harapan dengan si dia mulai berdenting. Aduuuhh, gimana nih?
Tahu sih Islam nggak kenal pacaran. Tahu sih Islam nggak ngijinin ikhwan bergaul terlalu deket ama akhwat. Tapi mo gimana lagi. anak rohis kan juga manusia. Bukan malaikat yang nggak goyah dengan virus cinta. Terus gimana dong? Mo nikah? Kan sekolah nggak ngijinin anak didiknya nikah pas masih masa belajar. Yang udah kuliah? Sama aja! Ortu nggak bakal ngasih lampu hijau deh untuk nikah sebelum lulus kuliah en dapet kerja. Lagian nikah itu kan berat. Kudu bertanggungjawab en terikat.
Akibat ‘konflik’ itu, nggak sedikit yang galau, nggak sanggup lagi mengekang yang namanya cinta (baca: nafsu), Akhirnya, banyak anak rohis yang memilih menjalani HTS (hubungan tanpa status). Nggak pacaran sih, tapi sms mesra, telepon-telponan dan lirik-lirikan saat rapat. Untuk yang lebih nekat, berani ngasih label status hubungannya dengan label ‘pacaran islami’. Katanya, pacaran ini semata-mata sebagai sarana untuk meningkatkan rasa empati dan berbagi. Bahkan ada yang nekat nulis buku-buku yang memberikan panduan pacaran islami. Hasilnya? Meski banyak yang tetep bertahan en stay cool, nggak sedikit pula anak rohis yang akhirnya bablas en gugur di medan tempur eh medan dakwah. Nggak hanya gugur, tetapi juga terhina.



Aktivis Rohis juga manusia
Sobat Islam rahimakumullah,  Kalo masih ada yang berpikiran, ‘anak rohis kan juga manusia’, punya hati punya rasa, wajar aja bisa kesandung cinta. Nah, justru karena anak rohis itu manusia, makanya anak rohis kudu ngikutin aturan Yang Menciptakan Manusia. Islam itu turun dengan aturan yang udah lengkap banget. Masalah bersuci aja diurusin, apalagi masalah yang terkait dengan pergaulan. Catet tuh!
Dalam Islam, berzina adalah perbuatan haram yang sanksinya berat banget. Jangankan berzina, sudah termasuk dikatakan berdosa meski hanya mendekati zina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya banyak yang mengharamkan zina, termasuk semua pendahuluan ke arah perbuatan zina. Meski pun hanya berupa sentuhan yang kerap dianggap sepele saat ini.
Hubungan tanpa status (bak yang mengaku ‘pacaran Islami’ atau yang bebas) itu bagaimana pun adalah perbuatan mendekati zina. Meski sekadar sms-an mesra sekali pun, tetep aja disebut gerbang masuknya zina. Nah, dengan pacaran model kayak gini, ada nggak yang berani jamin kalo ini nggak akan berkembang jadi pergaulan bebas? Nggak ada kan?
Namanya maksiat meski tampak kecil tetep aja maksiat. Kalo dituruti makin lama makin ‘nagih’ untuk berbuat lebih. Faktanya, pergaulan bebas itu bukan hanya terjadi pada remaja yg ‘berandalan’ dan jauh dari agama lho, tapi pada anak rohis pun bisa juga melakukan hal yang sama kalo nggak tahu ilmunya. Bedanya, anak rohis dibumbui dengan alasan menjalin ukhuwah. Weleh-weleh, menjalin ukhuwah kok harus dengan lawan jenis. So, belajar tentang tata pergaulan jadi wajib jib! Nggak cuma ngandelin semangat doang. Inget-inget ya! Ini udah kategori bikin:Jleb!

Mencegah itu lebih baik
Sobat Islam rahimakumullah, sebelum kecebur ke kolam, mending jangan maen-maen di pinggir kolam deh. Sebelum terbakar, mending jangan maen api deh. Sebelum terperangkap cinta yang nggak halal, mending dicegah deh perasaan mo deket-deket dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Ibarat magnet nih ya, daripada didekatkan malah jadi saling tarik-menarik, mending dijauhkan sekalian. Beres!
Bener lho, ekspresi cinta itu sendiri sebenarnya bentuk dari perwujudan naluri. Nah, yang namanya naluri, rangsangannya berasal dari luar. Naluri ini akan mendorong manusia untuk mewujudkan pemuasannya. Makanya orang yang udah kadung kesandung cinta akan galau selama belum mendapatkan kepastian cintanya berbalas atau nggak. Itu seababnya, mencegah itu lebih baik daripada mengobati. So, sebelum wadah pengajian jadi ajang pacaran, ada beberapa tips untuk mencegahnya. Apa aja tuh?
Pertama, kurangi intensitas pertemuan yang nggak perlu. Sering bertemu emang bikin hati mudah goyah. Perasaan yang semula biasa-biasa aja jadi bisa tumbuh, mekar en subur (tanaman kalee) gara-gara seringnya berinteraksi. Ini tentu aja bikin hati nggak sehat. Cara menghindarinya, usahakan kegiatan antara ikhwan dan akhwat dipisah. Kalo suatu kegiatan bisa dilakukan secara terpisah, ini akan meminimalkan pertemuan antara aktivis rohis yang ikhwan dan yang akhwat. Itu artinya, pertemuan yang ‘terpaksa’ terjadi karena ada hal yang penting-penting aja.
Kedua, musti menundukkan pandangan alias gadhul bashor. Menundukkan pandangan bukan berarti menunduk terus sampai nggak liat kanan kiri, depan belakang (kan gawat kalo ketabrak). Gadhul bashor artinya tetap melihat dengan wajar dan menahan pandangannya itu dari hal-hal yang diharamkan Allah. Lihat sama sekali lho. Bukan berarti nggak melihat. Misalnya saat berbicara dengan lawan jenis. Satu sama lain jangan menikmati wajah atau penampilan lawan bicaranya. Menikmati artinya ada perasaan nafsu menjalar di pikiran dan perasaan. Bahaya itu! Firman Allah (yang artinya): “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya… (QS an-Nuur [24]: 30-31)
Ketiga, jangan berbicara dengan gaya bicara yang mendesah ato merayu-rayu. Ini bukan berarti kalo lagi bicara ama ikhwan, gaya bicara kita seperti lagi ngebentak maling yang kepergok nyuri ayam, ya hehe…berbicara sewajarnya aja. Firman Allah Ta’ala (yang artinya):”Jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lemah lembut (mengucapkan perkataan), nanti orang-orang yang dalam hatinya ragu (penyakit) ingin kepadamu. Dan berkatalah dengan perkataan yang baik. ” (QS al-Ahzab [33]: 32)
Keempat, jaga hati en pikiran. Di awal udah dijelasin kalo cinta itu adalah bentuk dari potensi manusia bernama naluri. Nah, ada dua faktor nih yang bikin naluri cinta ini bangkit. Pertama, fakta yang dapat diindera. Yang kedua, pikiran yang mengundang makna-makna atau benak yang diisi dengan hayalan. So, supaya naluri ini nggak terbangkitkan, nggak menuntut dipuaskan, maka kamu kudu menghilangkan salah satu atau keduanya. Melihat akhwat bagi yang ikhwan, begitu juga sebaliknya nggak akan ngaruh dan berefek apa-apa kalo hati en pilkiranmu kamu jaga supaya nggak menghayal ke mana-mana. Ingat lho, Allah menghisab alias menghitung (dan akan meminta pertanggungan jawab) atas segala perbuatan kita. seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Israa’ [17]: 36)
Jadi, saat hatimu mulai terbakar cinta, kamu bisa menetralkannya dengan beristighfar dan banyak mengingat Allah Ta’ala. Maka dengan mudah, kamu bisa move on lagi. Nah, yang terpenting dari itu semua, buktikan bahwa kamu adalah anak rohis yang nggak berbekal semangat doang. Tapi kamu adalah anak rohis yang bener-bener ngerti Islam termasuk tata pergaulannya (khususnya dengan lawan jenis).
Sobat Islam rahimakumullah, Rohis in Love itu awalnya wajar alias biasa-biasa saja. Rasa cinta yang tumbuh berawal dari seringnya bertemu di antara sesama aktivis rohis adalah hal biasa. Tetapi jika diekspresikan dengan pacaran, itu menjadi luar biasa jeleknya. So, kuatkan keimananmu, luruskan niat gabung di rohis, tumbuhkan takwa dengan benar, semangat cari ilmunya, pahami juga–ini penting–seluk-beluk syariat Islam seputar pergaulan yang syar’i.

 

Minggu, 05 Oktober 2014



Sobat Al amri, Hari Raya Idul Adha baru saja berlalu. Alhamdulillah, Allah Ta’ala masih berkenan melimpahkan nikmat-Nya sehingga kita dipertemukan dengan hari besar itu. Sampai detik ini pun kita masih bisa menghirup segarnya oksigen, menikmati birunya langit dengan gumpalan awan putih, beraktivitas dan beramal sholih. Eits, ngomongin soal Idul Adha. Apa sih yang ada di benak kalian? Apa saja yang dilakukan saat hari itu tiba? Hmm, Idul Adha itu bulan haji, ada sholat Id, kumpul di lapangan untuk motong atau sekedar melihat hewan qurban disembelih. Oya, nyate daging kambing rame-rame dll. Wiih, nyate, Bro. Mantap!
Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang cukup penting bagi umat Islam. Kenapa? Karena ada peristiwa-peristiwa yang bisa dibilang historis. Tanggal 9 Dzulhijjah jutaan kaum Muslimin baik pria atau wanita, dari ras dan negara yang berbeda melakukan wukuf di Arafah yang merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah haji. Esoknya, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah adalah hari Raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak merefleksi bahwa tidak ada yang agung dan patut disembah kecuali Allah Ta’ala. Di hari raya inilah penyembelihan hewan qurban dilakukan. Sik, asik!

Seputar syariat Qurban
Sobat, rahimakumullah, kata qurban berasal dari bahasa Arab yaitu qoroba atau yaqrobu yang artinya dekat. Melaksanakan qurban tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Hukum berqurban itu sunnah muakkad loh. Sangat dianjurkan. Ini menurut pendapat mayoritas ulama. Berqurban adalah salah satu ibadah yang disyariatkan dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berqurbanlah.” (QS al-Kautsar [108]: 2)
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bagi tiap-tiap umat, telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah (Allah) rezekikan kepada mereka. Maka Rabb kalian ialah Rabb yang Maha Esa. Oleh karena itu, berserah dirilah kalian kepada-Nya.” (QS al-Hajj [22]: 34)
Sobat , tentu sudah tidak asing lagi bukan dengan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam yang dalam mimpinya melihat beliau menyembelih anaknya, yakni Nabi Isma’il ‘alaihi sallam? Allah Ta’ala telah mengabadikannya di dalam al-Quran surat ash-Shaffat ayat 102-109. Silahkan dicek ya. Selama bertahun-tahun Nabi Ibrahim menunggu kehadiran buah hatinya. Setelah dikaruniai anak ternyata Allah menguji keikhlasan dan ketaatan Nabi Ibrahim. Allah Ta’ala memerintahkan agar ia menyembelih Nabi Ismail as, anaknya sendiri. Namun, karena ketakwaannya Nabi Ibrahim memilih untuk tetap melaksanakan perintah Allah hingga akhirnya anaknya tidak jadi disembelih. Allah Ta’ala menggantikan dengan seekor domba. Subhanallah!
Itulah buah dari ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah Ta’ala. Beliau sangat mencintai anaknya. Namun kecintaan terhadap anaknya tidak menghalanginya untuk taat kepada Allah Ta’ala. Hal ini patut kita teladani. Sebesar apa pun kecintaan terhadap sesuatu jangan sampai membuat kita lalai dari perintah-Nya. Seseru dan semenarik apa pun tayangan di televisi jangan sampai membuat kita menunda waktu sholat. Musik dan lagu yang didengarkan bahkan hampir tiap hari jangan sampai melupakan kita untuk membaca al-Quran. Tegakah jika al-Quran hanya dipajang dan dibiarkan terkurung di lemari ruang tamu? Jangan biarkan sertifikat taqwa lari menjauh dari kita. Jangan sampai deh!
Sobat, perintah berqurban yang sudah disyariatkan–terutama bagi mereka yang mampu- menunjukkan bahwa Islam itu adalah agama yang peduli dan menghormati fakir miskin dan kaum dhuafa. Nah, dengan disyariatkannya qurban, kaum Muslimin dilatih untuk memperkuat rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial dan mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama. Itu sebabnya, akan menjadikan kita seorang yang peduli kepada saudaranya. Mana mungkin kita tega melihat orang lain kesusahan, kelaparan atau kehausan. Sementara kita hidup enak dan berkecukupan. Lalu, bagaimana dengan remaja saat ini? Apakah mereka peduli?

Remaja terjebak hedonisme
Sobat, rahimakumullah, di zaman sekarang ini remaja mudah sekali terjerumus dan melakukan hal buruk bahkan sampai melampaui batas koridor yang sudah ditetapkan Islam. Pergaulan bebas merajalela. Pacaran, narkoba, dan seks bebas sudah menjadi hal yang tidak aneh di negeri ini. Geng motor yang bikin resah masyarakat, fenomena cewek cabe-cabean atau terong-terongan (kalau tomat-tomatan dan garam-garaman serta gula-gulaan ada nggak ya? Sekalian bikin sambal deh. Hihihi… ). Bayangin coba, ada loh anak SD dan SMP yang tidak malu melakukan hubungan seks dengan teman sekolahnya. Malah tidak sedikit yang menjadi PSK di usia sekolah. Bagaimana dengan anak SMA atau kuliahan? Beuh pastinya jauh lebih banyak. Sudah putus kali ya urat malunya. Astaghfirullah.
Belum lagi pengaruh blantika musik dan hiburan lain. Coba perhatikan teman kalian, lagu apa sih yang biasanya mereka dengar? Rock, Metal, K-pop, Kroncong atau dangdut? Mending kalau nasyid atau murottal. Yee, ini mah malah lagu galau atau free love yang didengarkan. Padahal lirik lagunya belum tentu berisi tentang kebaikan. Malah mengajak kepada kemusyrikan. Ih, na’udzubillah!
Lebih aneh lagi, banyak remaja yang asal mendengarkan lagu tanpa tahu isi dari lagu tersebut. Pokoknya enak didengar, sedang booming, kan cuma dengerin aja. Mungkin itu contoh pembelaan mereka saat ‘diinterogasi’. Parahnya nih, nggak sedikit remaja yang karena keasyikannya dengerin lagu sampai melalaikan kewajiban lain. Contohnya sholat. Berapa banyak teman kalian yang menunda waktu sholat karena sedang asik dengerin lagu?
Tidak beda jauh dengan televisi. Acara-acara televisi kebanyakan tidak bermanfaat, malah dampak negatifnya yang besar. Pornoaksi dan pornografi yang ada pada tayangan sinetron, film atau iklan. Kekerasan, kejahatan, gaya hidup hedonis dan lainnya. Hal ini akan sangat berbahaya. Gara-gara nonton film tinju seorang anak bikin babak belur teman sekolahnya. Atau gaya bicara alay seperti di sinetron-sinetron yang akhirnya ditiru oleh anak-anak. Bukan tidak mungkin, adik atau keponakan kalian bisa melakukan hal serupa. Harus kudu mesti ekstra hati-hati (widiw, nih nulisnya pemborosan kata ya? Hehehe). Jangan biarkan anak kecil yang masih unyu-unyu nonton televisi sendirian tanpa bimbingan orang tua dan kakaknya.
So, nggak bisa dipungkiri bahwa remaja mudah sekali terbawa arus apalagi di zaman serba hedonis dan permisif sekarang ini. Tanpa aqidah yang kuat seseorang tidak akan mampu membendung arus paham liberal tersebut. Aqidah yang menancap kuat pada seseorang tidak akan mudah hanyut. Aqidah menjadi benteng baginya. Namun sayang, remaja saat ini masih banyak yang enggan mempelajari dan mendalami ilmu agama. Bagaimana aqidahnya mau kuat? Malah, untuk ibadah semisal sholat saja masih malas-malasan. Disuruh ibunya ke warung saja ogah. Pengennya duduk depan televisi nonton sinetron atau mantengin acara musik pagi. Kalau ditanya mau masuk surga atau nggak, pasti jawabnya mau. Tapi bagaimana mau masuk surga wong diajak ngaji saja masih mikir-mikir? Masihkah kita berdiam diri membiarkan hal ini?
Kalau dipikir-pikir nih, memang apa sih untungnya nonton sinetron, acara musik atau dengerin lagu yang tidak islami? Ada yang sampai berjam-jam pula. Aneh, segitu betahnya ya. Atau kumpul bareng geng motor dan teman cabe-cabeannya. Padahal cuma nongkrong saja dan gaya-gayaan di jalanan. Coba deh, lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat. Sesuatu yang bernilai pahala. Sebagai remaja Muslim kita harusnya berusaha menjadi pribadi yang bertakwa. Berusahalah melakukan apa yang telah diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apa beratnya sholat 5 waktu? Satu kali sholat wajib paling cepat 5 menit. Ini belum yang sunnah. So, mending sholat daripada nonton televisi, nongkrong atau dengerin lagu free love sampai berjam-jam.

Hidup di dunia hanya sekali
Sobat rahimakumullah, hidup di dunia fana ini hanya sekali. Kita semua pasti akan mati. Kelak, malaikat maut akan datang dan menjemput kita. Ketika saat itu tiba, kita tidak bisa berkutik atau meminta agar ditunda. Apa jadinya jika kita tidak mempersiapkan bekal untuk hari esok? Berfoya-foya selama hidup di dunia atau terlalu sibuk mencari kesenangan duniawi hingga melupakan kehidupan di akhirat kelak. Ketahuilah Bro en Sis, kekayaan atau jabatan di dunia tidak akan langgeng. Ada batas waktunya. Nggak akan selamanya dimiliki. Bahkan, kalo kita meninggal dunia pun, harta itu nggak bakalan dibawa ke lubang kubur.
Kesenangan di surga jauh lebih besar. Jika ingin sukses dan menjadi penghuni surga kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beribadah, berbakti kepada orang tua, belajar dan beramar ma’ruf nahi munkar. Tebarkanlah kebaikan di mana pun kalian berada. Berkorbanlah demi kebaikan kita dan kaum Muslimin lainnya. Maka, dengan berdakwah kita mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan dana. Tak mengapa. Jika kita ikhlas semata-mata ingin mendapat ridho Allah akan menjadi bekal. Raihlah ‘sertifikat’ takwa. Salah satunya dengan berkurban dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah Ta’ala. Semangat!

Rabu, 22 Mei 2013

Hadist Tentang Keta'atan


KEWAJIBAN TAAT
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْع وَلَا طَاعَةَ
Artinya: Dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW bersabda:” Atas setiap muslim harus mendengar dan taat terhadap sesuatu yang ia cintai atau benci, kecuali jika diperintah berbuat maksiat. Jika diperintah bermaksiat maka tidak ada mendengar dan taat”(Muttafaqun alaihi)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ
Artinya: Dari Anas bin Malik dari Nabi SAW bersabda:” Dengar dan taatlah kalian walaupun dipimpin oleh seorang budak Habsyi dan kepalanya seperti buah anggur kering” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah ra berkata:Rasulullah saw bersabda:” Hendaknya kamu mendengar dan taat pada saat engkau susah dan mudah, ketika engkau semangat atau tidak suka atau dalam keadaan punya kepentingan sendiri” (HR Muslim). Hadits-hadits yang membahas tentang taat itu banyak sekali dan begitu juga yang disebutkan dalam Al-Qur’an juga banyak diantaranya;
Allah Swt berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya .
DEFINISI TAAT
Secara bahasa artinya mengerjakan sesuatu yang diperintahkan. Sedangkan secara syari’ah ialah beramal melaksanakan perintah disertai niat dan keyakinan. Berkata Al-Qurtubi:”Hakekat taat adalah melaksanakan sesuatu yang diperintahkan. Dan lawannya ma’shiyah artinya menyimpang dari perintah. Sedangkan Hasan Al-Banna berkata:” Yang saya kehendaki dari ketaatan ialah melaksanakan perintah dan merealisasikannya secara sepontan baik dalam kondisi susah atau mudah, dalam kondisi bergairah atau tidak”.
URGENSI TAAT
Ketaatan merupakan pondasi hukum Islam dan kaidah sistem politik. Seseorang tidak mungkin dapat membayangkan adanya sistem yang benar dan negara yang kuat tanpa adanya keadilan dari penguasa dan ketaatan dari rakyatnya. Oleh karena itu sngat tepat apa yang dikatakan khalifah kedua umat Islam Umar bin Khattab:” Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa pemimpin dan tidak ada pemimpin tanpa ketaatan. Islam bukanlah agama individu, tetapi agama masyarakat yang tidak mungkin terealisasi kecuali melalaui jamaah. Dan jamaah tidak akan berarti sama sekali jika anggotanya tidak diikat oleh suatu sistem dan dihimpun oleh pemimpin yang mengatur urusan mereka.
Sesungguhnya sikap mendengar dan taat merupakan dua pilar dari sistem hidup bermasyarakat. Dan keduanya merupakan tulang punggung dari manusia yang hidup dalam suatu bangsa dimana tidak mungkin bangsa tersebut menolak dan mengusir musuh, tentaranya akan menang jika tidak memiliki sikap mendengar dan taat yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat berpisah dari bangunan umat ini. Sehingga sikap mendengar dan taat adalah suatu yang mutlak harus dilakukan bagi bangsa yang ingin besar.
LANDASAN HUKUM TAAT KEPADA PEMIMPIN
Sesuai dengan nash yang telah dikemukakan diatas baik dari Al-Qur’an maupun sunnah, menyimpulkan bahwa Islam mewajibkan taat umat Islam untuk taat kepada pemimpin dan haram bagi umat Islam menyimpang dari ketaatan kepada pemimpin Islam. Nash lain yang mendukung perintah taat dan larangan menyimpang adalah:
Rasulullah saw bersabda: Dari Abu Hunaidah Wa’il bin Hajar ra berkata: Salamah bin Yazid Aj-Ja’fi bertanya pada Rasulullah saw dan berkata:” Wahai nabi Allah bagaimana pendapatmu jika pemimpin kami meminta kepada kami hak mereka dan tidak melaksanakan haknya (kewajibannya)?”. Rasulullah saw berpaling darinya, tetapi ia bertanya lagi, maka Rasulullah saw menjawab:” dengar dan taatilah (pemimpin tersebut) karena sesungguhnya mereka akan menanggung beban tanggung-jawab yang harus dilaksanakannya dan kamu juga akan bertanggung-jawab terhadap yang kamu perbuat“ (HR Muslim)
BATASAN KETAATAN
Ketika Islam mewajibkan umat Islam untuk mentaati para pemimpin, Islam juga memberi batasan tentang ketaatan tersebut dan tidak membiarkanya berlaku mutlak tanpa ada batasan. Karena ketaatan mutlak akan melahirkan tirani dan kediktatoran sehingga akan menghapus nilai-nilai Islan dalam hidup bermasyarakat. Oleh karenanya ketaatan terhadap pemimpin dibatasai oleh ruang lingkup tertentu dan syarat-syarat tertentu yang harus ditunaikan. Dan diantaran batasan dan syurut tersebut adalah:
1. Pemimpin tersebut harus merealisasikan Syariat Islam, jika tidak melaksanakan Syariat Islam maka tidak ada kewajiban taat kepada pemimpin tersebut sesuai yang disebutkan Al-Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 59
2. Pemimpin tersebut tidak menyuruh manusia berbuat maksiat. Maka jika pemimpin menyuruh rakyatnya berbuat maksiat seperti minur khomr, riba, buka aurat dll, maka tidak ada kewajiban taat. Rasulullah saw bersabda: Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Khalik (Allah)”(HR Ahmad dan Al-Hakim)
3. Menegakkan hukum dengan adil, jika pemimpin melaksanakan keadilan maka wajib taat kepada mereka tetapi jika tidak adil maka tidak ada hak untuk ditaati, sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisaa’ 59.
4. Sesuatu yang diperintahkan mampu dilaksanakan oleh yang akan menanggung perintah tersebut.
Dari Abdullah bin Umar ra berkata: ”kami jika membai’ah Rasulullah saw untuk mendengar dan taat. Beliau berkata pada kami:”pada yang kamu mampu” (Muttafaqun ‘alaihi)
KETAATAN DALAM DA’WAH ISLAM
Ketaatan adalah unsur yang sangat prinsip yang sangat dibutuhkan dalam gerakan da’wah. Setiap gerakan da’wah tidak mungkin sampai pada tujuan kecuali jika unsur ketaatan sudah sampai pada derajat yang sempurna. Dan ketaatan dalam Islam berlandaskan pada prinsip Akidah dan Syari’ah.
Jika kita melihat gerakan da’wah Islam, pada setiap gerakan pasti memiliki pemimpin dan gerakan tersebut bertujuan menegakkan hukum Islam maka wajib bagi pengikut dan anggota gerakan Islam tersebut mentaati pemimpinnya agar tujuan penegakkan Syari’at Islam dapat terealisasi dengan cepat. Oleh karena itu imam Hasan Al-Banna salah seorang pemimpin gerakan Islam modern menjadikan taat sebagai salah satu rukun atau pilar dari rukun ba’iah yang terdiri dari sepuluh poin. Beliau berkata:” Sistem da’wah dalam marhalahTakwin (fase pembentukan) adalah sufi murni pada sisi ruhiyah dan militer murni pada sisi amaliyah. Dan syi’ar dari dua sisi tersebut adalah ‘perintah dan taat’ tanpa bimbang, mundur, ragu dan berat. Dan da’wah dalam marhalah ini bersifat khusus yang tidak dapat berhubungan kecuali orang-orang yang sudah menyiapkan dengan persiapan yang benar untuk menanggung beban jihad yang panjang jaraknya dan banyak rintangan. Dan langkah awal dari bersiapan ini adalah sikap kamalut tha’ah (kesempurnaan ketaatan).
Abul A’la Maududi menerangkan pemahaman ini, beliau berkata:” Di lihat dari arah agama yang murni, maka ketaatan anggota jamaah kepada pemimpinnya merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Seseorang ketika melaksanakan perintah da’wah karena keyakinannya bahwa da’wah itu perintah Allah dan Rasul-Nya. Ia tidak ridha pada seorang untuk menjadi pemimpin dirinya kecuali untuk mengharapkan ridha Allah dan mendekatkan kepada-Nya. Sehingga ketika ia taat kepada pemimpin dalam perintah-perintahnya yang masyru’ pada hakekatnya ia mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sehingga ia dengan cepat melaksanakan perintah tersebut sesuai tingkat kekuatan hubungannya dengan Allah dan Rasul-Nya. Maka ketaatan seorang akh kepada pemimpin, dengan niat untuk Allah maka ia akan mendapat pahala yang besar dari Allah”.
FENOMENA KETAATAN KEPADA PEMIMPIN
1. Ingin segera melihat pemimpin ketika usai melaksanakan tugasnya.
Hal ini seperti terjadi pada diri Mush’ab bin Umair. Ketika ia diutus oleh Rasulullah saw untuk berda’wah ke Madinah. Setelah berhasil mengislamkan banyak sekali penduduk Madinah maka ia pulang ke Mekkah dan Mush’ab mengutamakan Rasul saw atas ibunya dan segera menemui Rasul saw sebagai bentuk kerinduan kepadanya, ingin melihat wajahnya dan melaporkan hasil dari tugasnya.
2. Memahami perintah secara baik sehingga dapat menjamin keselamatannya dan dapat merealisasikannya dengan baik. Suatu persyaratan dapat melaksanakan tugas dengan baik adalah memahami rincian apa yang ditugaskan. Sehingga ketika seorang da’i mendapat tugas dari pemimpinnya ia harus mendengarkannya dengan baik dan memahaminya agar dapat melaksanakannya.
3. Bersabar dan menahan beban sehingga tugas dapat dilaksanakan dengan sukses. Diantara ciri seorang yang taat pada pemimpinnya, ia berusaha bersabar dan menanggung beban untuk melaksanakan tugasnya. Sehingga berhasil dengan baik.
4. Menyambut seruan dengan segera walaupun bertentangan dengan pendapatnya. Sebagaimana yang pernah terjadi pada Huzaefah bin Yaman pada waktu perang Ahzab ia diperintahkan Rasulullah saw untuk memata-matai musuh. Ketika berhadapan dengan musuh-musuhnya dan diantaranya Abu Sufyan ia ingin membunuhnya tetapi kemudian ia teringat bahwa tugasnya hanya untuk memata-matai bukan untuk membunuh. Sehingga tidak terjadi membunuh Abu Sufyan.
5. Memberikan nasehat. Seorang da’i yang diperintahkan untuk melakukan sesuatu dapat saja memberikan nasehat atau masukan terhadap perintah tersebut. Tetapi jika sudah diputuskan tidak memaksakan kehendak. Hal ini pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Saat itu beliau ingin mendirikan kamp militer di Badar, maka sahabatnya bertanya, apakah pilihan tempat tersebut wahyu atau ijtihad Rasul saw. Ketiak dijawab ijtihad, maka sahabat tersebut mengusulkan pindah ketempat yang lebih layak yaitu dekat dengan air .
6. Meminta izin. Meminta izin adalah adab yang sangat penting dalam aktifitas berdakwah dan berjama’ah. Karena begitu pentingnya, Al-Qur’an mengatur langsung adab meminta izin dan komitmen pada keputusan pemimpin. Allah SWT. berfirman:
7. Menanyakan teknis pelaksanaan. Suatu prinsip yang sangat penting bagi kesuksesan dalam mengerjakan perintah adalah pemahaman atas perintah tersebut. Oleh karena itu jundi yang baik adalah jika senantiasa menanyakan hal-hal yang belum difahaminya agar pelaksanaan ketaatan tersebut berjalan secara sempurna.
8. Bersungguh-sungguh menjaga keselamatan pemimpin. Pemimpin adalah bagian dari dakwah yang sangat strategis, sehingga diantara tolok ukur dari ketaatan jundi adalah bersungguh-sungguh dalam menjaga keselamatan pemimpin. Contoh terbaik dalam hal ini adalah bagaimana para sahabat mengorbankan jiwa dan hartanya untuk keselamatan Rasulullah saw. Bahkan pada saat perang Uhud para sahabat banyak yang menjadi tameng hidup Rasulullah saw. Demi menyelamatankan beliau. Dan begitu juga dalam peristiwa hijrah Rasulullah saw., suatu sejarah yang harus menjadi pelajaran ketaatan dalam dakwah, aktivis dakwah dan para pemimpin dakwah
9. Segera memberikan masukan atau pendapat sesuatu yang memberi manfaat. Masukan dan pendapat adalah suatu yang sangat penting bagi para pemimpin. Oleh karena itu perlu dihidupkan suasana keterbukaan agar lahir pemimpin yang ikhlas yang selalu menerima masukan dan koreksi dan jundi yang taat tapi cerdas.
10. Tidak berijtihad dengan adanya nash. Nash baik Al-Qur’an maupun Sunnah adalah pedoman yang harus diikuti oleh semua muslim, baik pemimpin atau yang dipimpin, sehingga mereka semua harus merujuk nash tersebut dan jika berselisih dalam suatu masalah maka harus kembali juga kepada nash Al-Qur’an dan Sunnah.
KEUTAMAAN TAAT
1. Mendapatkan puncak kenikmatan bersama para nabi
Firman Allah: Artinya:” Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS An-Nisaa’ 69)
2. Tidak terbuangnya kekayaan dunia dan mendapat keberkahan hidup Firman Allah: Artinya: ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”(QS Al-A’raaf 96).
3. Mendapat tambahan hidayah. Firman Allah SWT: Artinya: ”Dan orang-orang yang berupaya mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya” (QS Muhammad 17).
4. Mendapat keteguhan dalam taat. Firman Allah SWT. Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad 7).
5. Mendapat pahala yang besar berupa keridhan Allah dan surga-Nya Firman Allah SWT. Artinya: (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar” (QS An-Nisaa’ 13).
BAHAYA TIDAK TAAT
1. Rapuhnya barisan dan timbulnya perselisihan.
Artinya: ”Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfaal 46).
2. Kehinaan dari Allah SWT. Artinya: ”Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan” (QS An-Nisaa’ 14).
Artinya:”Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman” (QS Al-Anfaal 55).
3. Bedosa dan bermaksiat kepada Allah. Firman Allah SWT: Artinya:”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” (QS Al-Maa-idah 49).
4. Mati dalam kondisi sesat dan jahiliyah. Firman Allah SWT:
Artinya: ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS: Al-Ahzaab 36).
Rasulullah saw. bersabda: Artinya:Dari Ibnu Abbas ra dari Nabi SAW bersabda:” Barangsiapa melihat sesuatu yang ia tidak sukai pada pemimpinnya, maka bersabarlah karena barangsiapa yang meninggalkan jamaah sejengkal kemudian mati, kecuali mati dalam keadaan jahiliyah” (Muttafaqun ‘alaihi)