KEWAJIBAN
TAAT
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ
وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ
أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْع وَلَا طَاعَةَ
Artinya: Dari Ibnu Umar,
dari Nabi SAW bersabda:” Atas setiap muslim harus mendengar dan taat terhadap
sesuatu yang ia cintai atau benci, kecuali jika diperintah berbuat maksiat.
Jika diperintah bermaksiat maka tidak ada mendengar dan taat”(Muttafaqun alaihi)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ حَبَشِيٌّ
كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ
Artinya: Dari Anas bin
Malik dari Nabi SAW bersabda:” Dengar dan taatlah kalian walaupun dipimpin oleh
seorang budak Habsyi dan kepalanya seperti buah anggur kering” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah ra
berkata:Rasulullah saw bersabda:” Hendaknya kamu mendengar dan taat pada
saat engkau susah dan mudah, ketika engkau semangat atau tidak suka atau dalam
keadaan punya kepentingan sendiri” (HR Muslim). Hadits-hadits yang membahas
tentang taat itu banyak sekali dan begitu juga yang disebutkan dalam Al-Qur’an
juga banyak diantaranya;
Allah Swt berfirman: ‘Hai
orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya .
DEFINISI TAAT
Secara bahasa artinya
mengerjakan sesuatu yang diperintahkan. Sedangkan secara syari’ah ialah beramal
melaksanakan perintah disertai niat dan keyakinan. Berkata Al-Qurtubi:”Hakekat
taat adalah melaksanakan sesuatu yang diperintahkan. Dan lawannya ma’shiyah
artinya menyimpang dari perintah. Sedangkan Hasan Al-Banna berkata:” Yang saya
kehendaki dari ketaatan ialah melaksanakan perintah dan merealisasikannya
secara sepontan baik dalam kondisi susah atau mudah, dalam kondisi bergairah
atau tidak”.
URGENSI TAAT
Ketaatan merupakan
pondasi hukum Islam dan kaidah sistem politik. Seseorang tidak mungkin dapat
membayangkan adanya sistem yang benar dan negara yang kuat tanpa adanya
keadilan dari penguasa dan ketaatan dari rakyatnya. Oleh karena itu sngat tepat
apa yang dikatakan khalifah kedua umat Islam Umar bin Khattab:” Tidak ada Islam
tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa pemimpin dan tidak ada pemimpin tanpa
ketaatan. Islam bukanlah agama individu, tetapi agama masyarakat yang tidak
mungkin terealisasi kecuali melalaui jamaah. Dan jamaah tidak akan berarti sama
sekali jika anggotanya tidak diikat oleh suatu sistem dan dihimpun oleh
pemimpin yang mengatur urusan mereka.
Sesungguhnya sikap
mendengar dan taat merupakan dua pilar dari sistem hidup bermasyarakat. Dan
keduanya merupakan tulang punggung dari manusia yang hidup dalam suatu bangsa
dimana tidak mungkin bangsa tersebut menolak dan mengusir musuh, tentaranya
akan menang jika tidak memiliki sikap mendengar dan taat yang merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat berpisah dari bangunan umat ini. Sehingga sikap
mendengar dan taat adalah suatu yang mutlak harus dilakukan bagi bangsa yang
ingin besar.
LANDASAN HUKUM TAAT
KEPADA PEMIMPIN
Sesuai dengan nash yang
telah dikemukakan diatas baik dari Al-Qur’an maupun sunnah, menyimpulkan bahwa
Islam mewajibkan taat umat Islam untuk taat kepada pemimpin dan haram bagi umat
Islam menyimpang dari ketaatan kepada pemimpin Islam. Nash lain yang mendukung
perintah taat dan larangan menyimpang adalah:
Rasulullah saw bersabda: Dari
Abu Hunaidah Wa’il bin Hajar ra berkata: Salamah bin Yazid Aj-Ja’fi bertanya
pada Rasulullah saw dan berkata:” Wahai nabi Allah bagaimana pendapatmu jika
pemimpin kami meminta kepada kami hak mereka dan tidak melaksanakan haknya
(kewajibannya)?”. Rasulullah saw berpaling darinya, tetapi ia bertanya lagi,
maka Rasulullah saw menjawab:” dengar dan taatilah (pemimpin tersebut) karena
sesungguhnya mereka akan menanggung beban tanggung-jawab yang harus
dilaksanakannya dan kamu juga akan bertanggung-jawab terhadap yang kamu
perbuat“ (HR Muslim)
BATASAN KETAATAN
Ketika Islam mewajibkan
umat Islam untuk mentaati para pemimpin, Islam juga memberi batasan tentang
ketaatan tersebut dan tidak membiarkanya berlaku mutlak tanpa ada batasan.
Karena ketaatan mutlak akan melahirkan tirani dan kediktatoran sehingga akan
menghapus nilai-nilai Islan dalam hidup bermasyarakat. Oleh karenanya ketaatan
terhadap pemimpin dibatasai oleh ruang lingkup tertentu dan syarat-syarat
tertentu yang harus ditunaikan. Dan diantaran batasan dan syurut tersebut
adalah:
1. Pemimpin tersebut
harus merealisasikan Syariat Islam, jika tidak melaksanakan Syariat Islam maka
tidak ada kewajiban taat kepada pemimpin tersebut sesuai yang disebutkan
Al-Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 59
2. Pemimpin tersebut
tidak menyuruh manusia berbuat maksiat. Maka jika pemimpin menyuruh rakyatnya
berbuat maksiat seperti minur khomr, riba, buka aurat dll, maka tidak ada
kewajiban taat. Rasulullah saw bersabda: Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat
kepada Khalik (Allah)”(HR Ahmad dan Al-Hakim)
3. Menegakkan hukum
dengan adil, jika pemimpin melaksanakan keadilan maka wajib taat kepada mereka
tetapi jika tidak adil maka tidak ada hak untuk ditaati, sebagaimana disebutkan
dalam surat An-Nisaa’ 59.
4. Sesuatu yang
diperintahkan mampu dilaksanakan oleh yang akan menanggung perintah tersebut.
Dari Abdullah bin Umar ra
berkata: ”kami jika membai’ah Rasulullah saw untuk mendengar dan taat.
Beliau berkata pada kami:”pada yang kamu mampu” (Muttafaqun ‘alaihi)
KETAATAN DALAM DA’WAH
ISLAM
Ketaatan adalah unsur
yang sangat prinsip yang sangat dibutuhkan dalam gerakan da’wah. Setiap gerakan
da’wah tidak mungkin sampai pada tujuan kecuali jika unsur ketaatan sudah
sampai pada derajat yang sempurna. Dan ketaatan dalam Islam berlandaskan pada
prinsip Akidah dan Syari’ah.
Jika kita melihat gerakan
da’wah Islam, pada setiap gerakan pasti memiliki pemimpin dan gerakan tersebut
bertujuan menegakkan hukum Islam maka wajib bagi pengikut dan anggota gerakan
Islam tersebut mentaati pemimpinnya agar tujuan penegakkan Syari’at Islam dapat
terealisasi dengan cepat. Oleh karena itu imam Hasan Al-Banna salah seorang
pemimpin gerakan Islam modern menjadikan taat sebagai salah satu rukun atau
pilar dari rukun ba’iah yang terdiri dari sepuluh poin. Beliau berkata:” Sistem
da’wah dalam marhalahTakwin (fase pembentukan) adalah sufi murni pada sisi
ruhiyah dan militer murni pada sisi amaliyah. Dan syi’ar dari dua sisi tersebut
adalah ‘perintah dan taat’ tanpa bimbang, mundur, ragu dan berat. Dan da’wah
dalam marhalah ini bersifat khusus yang tidak dapat berhubungan kecuali
orang-orang yang sudah menyiapkan dengan persiapan yang benar untuk menanggung
beban jihad yang panjang jaraknya dan banyak rintangan. Dan langkah awal dari
bersiapan ini adalah sikap kamalut tha’ah (kesempurnaan ketaatan).
Abul A’la Maududi
menerangkan pemahaman ini, beliau berkata:” Di lihat dari arah agama yang
murni, maka ketaatan anggota jamaah kepada pemimpinnya merupakan bagian dari
ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Seseorang ketika melaksanakan perintah
da’wah karena keyakinannya bahwa da’wah itu perintah Allah dan Rasul-Nya. Ia
tidak ridha pada seorang untuk menjadi pemimpin dirinya kecuali untuk
mengharapkan ridha Allah dan mendekatkan kepada-Nya. Sehingga ketika ia taat
kepada pemimpin dalam perintah-perintahnya yang masyru’ pada hakekatnya ia
mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sehingga ia dengan cepat melaksanakan perintah
tersebut sesuai tingkat kekuatan hubungannya dengan Allah dan Rasul-Nya. Maka
ketaatan seorang akh kepada pemimpin, dengan niat untuk Allah maka ia akan
mendapat pahala yang besar dari Allah”.
FENOMENA KETAATAN KEPADA
PEMIMPIN
1. Ingin segera melihat
pemimpin ketika usai melaksanakan tugasnya.
Hal ini seperti terjadi
pada diri Mush’ab bin Umair. Ketika ia diutus oleh Rasulullah saw untuk
berda’wah ke Madinah. Setelah berhasil mengislamkan banyak sekali penduduk
Madinah maka ia pulang ke Mekkah dan Mush’ab mengutamakan Rasul saw atas ibunya
dan segera menemui Rasul saw sebagai bentuk kerinduan kepadanya, ingin melihat
wajahnya dan melaporkan hasil dari tugasnya.
2. Memahami perintah
secara baik sehingga dapat menjamin keselamatannya dan dapat merealisasikannya
dengan baik. Suatu persyaratan dapat melaksanakan tugas dengan baik adalah
memahami rincian apa yang ditugaskan. Sehingga ketika seorang da’i mendapat
tugas dari pemimpinnya ia harus mendengarkannya dengan baik dan memahaminya
agar dapat melaksanakannya.
3. Bersabar dan menahan
beban sehingga tugas dapat dilaksanakan dengan sukses. Diantara ciri seorang
yang taat pada pemimpinnya, ia berusaha bersabar dan menanggung beban untuk
melaksanakan tugasnya. Sehingga berhasil dengan baik.
4. Menyambut seruan
dengan segera walaupun bertentangan dengan pendapatnya. Sebagaimana yang pernah
terjadi pada Huzaefah bin Yaman pada waktu perang Ahzab ia diperintahkan
Rasulullah saw untuk memata-matai musuh. Ketika berhadapan dengan
musuh-musuhnya dan diantaranya Abu Sufyan ia ingin membunuhnya tetapi kemudian
ia teringat bahwa tugasnya hanya untuk memata-matai bukan untuk membunuh.
Sehingga tidak terjadi membunuh Abu Sufyan.
5. Memberikan nasehat.
Seorang da’i yang diperintahkan untuk melakukan sesuatu dapat saja memberikan
nasehat atau masukan terhadap perintah tersebut. Tetapi jika sudah diputuskan
tidak memaksakan kehendak. Hal ini pernah terjadi pada masa Rasulullah saw.
Saat itu beliau ingin mendirikan kamp militer di Badar, maka sahabatnya
bertanya, apakah pilihan tempat tersebut wahyu atau ijtihad Rasul saw. Ketiak
dijawab ijtihad, maka sahabat tersebut mengusulkan pindah ketempat yang lebih
layak yaitu dekat dengan air .
6. Meminta izin. Meminta
izin adalah adab yang sangat penting dalam aktifitas berdakwah dan berjama’ah.
Karena begitu pentingnya, Al-Qur’an mengatur langsung adab meminta izin dan
komitmen pada keputusan pemimpin. Allah SWT. berfirman:
7. Menanyakan teknis
pelaksanaan. Suatu prinsip yang sangat penting bagi kesuksesan dalam
mengerjakan perintah adalah pemahaman atas perintah tersebut. Oleh karena itu
jundi yang baik adalah jika senantiasa menanyakan hal-hal yang belum
difahaminya agar pelaksanaan ketaatan tersebut berjalan secara sempurna.
8. Bersungguh-sungguh
menjaga keselamatan pemimpin. Pemimpin adalah bagian dari dakwah yang sangat
strategis, sehingga diantara tolok ukur dari ketaatan jundi adalah
bersungguh-sungguh dalam menjaga keselamatan pemimpin. Contoh terbaik dalam hal
ini adalah bagaimana para sahabat mengorbankan jiwa dan hartanya untuk
keselamatan Rasulullah saw. Bahkan pada saat perang Uhud para sahabat banyak
yang menjadi tameng hidup Rasulullah saw. Demi menyelamatankan beliau. Dan
begitu juga dalam peristiwa hijrah Rasulullah saw., suatu sejarah yang harus
menjadi pelajaran ketaatan dalam dakwah, aktivis dakwah dan para pemimpin
dakwah
9. Segera memberikan
masukan atau pendapat sesuatu yang memberi manfaat. Masukan dan pendapat adalah
suatu yang sangat penting bagi para pemimpin. Oleh karena itu perlu dihidupkan
suasana keterbukaan agar lahir pemimpin yang ikhlas yang selalu menerima
masukan dan koreksi dan jundi yang taat tapi cerdas.
10. Tidak berijtihad
dengan adanya nash. Nash baik Al-Qur’an maupun Sunnah adalah pedoman yang harus
diikuti oleh semua muslim, baik pemimpin atau yang dipimpin, sehingga mereka
semua harus merujuk nash tersebut dan jika berselisih dalam suatu masalah maka
harus kembali juga kepada nash Al-Qur’an dan Sunnah.
KEUTAMAAN TAAT
1. Mendapatkan puncak
kenikmatan bersama para nabi
Firman Allah: Artinya:”
Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka
itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS An-Nisaa’ 69)
2. Tidak terbuangnya
kekayaan dunia dan mendapat keberkahan hidup Firman Allah: Artinya: ”Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya”(QS Al-A’raaf 96).
3. Mendapat tambahan
hidayah. Firman Allah SWT: Artinya: ”Dan orang-orang yang berupaya mendapat
petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka
(balasan) ketakwaannya” (QS Muhammad 17).
4. Mendapat keteguhan
dalam taat. Firman Allah SWT. Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, jika
kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu” (QS Muhammad 7).
5. Mendapat pahala yang
besar berupa keridhan Allah dan surga-Nya Firman Allah SWT. Artinya:
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa
ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga
yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan
itulah kemenangan yang besar” (QS An-Nisaa’ 13).
BAHAYA TIDAK TAAT
1. Rapuhnya barisan dan
timbulnya perselisihan.
Artinya: ”Dan ta`atlah
kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfaal 46).
2. Kehinaan dari Allah
SWT. Artinya: ”Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan
melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api
neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan” (QS
An-Nisaa’ 14).
Artinya:”Sesungguhnya
binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang
kafir, karena mereka itu tidak beriman” (QS Al-Anfaal 55).
3. Bedosa dan bermaksiat
kepada Allah. Firman Allah SWT: Artinya:”Dan hendaklah kamu memutuskan
perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya
mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada
mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan
manusia adalah orang-orang yang fasik” (QS Al-Maa-idah 49).
4. Mati dalam kondisi
sesat dan jahiliyah. Firman Allah SWT:
Artinya: ”Dan tidaklah
patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min,
apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai
Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS:
Al-Ahzaab 36).
Rasulullah saw. bersabda: Artinya:Dari Ibnu Abbas ra dari Nabi SAW
bersabda:” Barangsiapa melihat sesuatu yang ia tidak sukai pada pemimpinnya,
maka bersabarlah karena barangsiapa yang meninggalkan jamaah sejengkal kemudian
mati, kecuali mati dalam keadaan jahiliyah” (Muttafaqun ‘alaihi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar